Tampilkan postingan dengan label kajian takaful. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian takaful. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

KEKUATAN VISI PEMIMPIN MUSLIM

Berawal dari sejarah Rasulullah SAW pada saat membangun parit untuk persiapan perang Khandaq. Salah seorang sahabat bertanya, ‘’Ya Rasulullah.. setelah perang Khandaq ini, lalu kota manalagi yang akan kita taklukan, Konstantinopel atau Roma?’’

Rasulullah berkata, ‘’Kota yang dipimpin oleh Hericlius (Roma)!

Rasulullah kemudian membuat visi jangka panjangnya dalam sebuah hadist, Kalian pasti akan membebaskan Kostantinopel. Pemimpin yang melakukannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.


Sejak saat itu, berlomba-lomba para pemimpin Islam secara turun-temurun ingin menjadi pemimpin yang dimaksud dalam visi Rasulullah tersebut, menaklukan Konstantinopel. Hingga 800 tahun berlalu, lahirlah seorang anak bernama Muhammad Al Fatih.

Ini adalah tentang Muhammad Al Fatih.
Ia adalah putra dari Sultah Murad II. Pemimpin kesultanan Turki Ustmani.

Setiap pagi, Muhammad Al-fatih kecil sudah ditanamkan visi oleh sang ayah dengan dibawa melihat tembok Benteng Konstantinopel yang kokoh setinggi 18 meter dari kejauhan. Konstantinopel dikelilingi oleh benteng berlapis tiga yang membentang sepanjang kota. Pada lapisan pertama, ada pembatas sungai yang di dalamnya terdapat buaya-buaya ganas.  Pada lapisan kedua terdapat pasukan pemanah berjumlah ribuan yang siap memanah. Dan begitu juga benteng lain yang sangat kokoh. Selama 11 abad, Konstantinopel tidak pernah bisa ditaklukkan oleh siapapun.

‘’Wahai Muhammad Al-fatih, kamu tahu apa itu? Itu tembok konstantinopel dan tahukah engkau bagaimana janji Rasulullah? Janjinya adalah kota konstantinopel akan jatuh ke tangan islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan. Saya yakin kelak kau yang akan menaklukkannya, Nak.’’

Al-Fatih kecil pun menjawab, Iya! Saya ingin menaklukkan Konstantinopel. Dan karena saya ingin menaklukkannya, maka saya akan memantaskan diri.

Apa yang ia lakukan? Memantaskan diri. Muhammad Al Fatih mempelajari dan sudah hafal Alquran 30 juz di usianya yang ke 8 tahun, ia mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, ia pun sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Waktu pun terus berlalu,  Muhammad Al-fatih, kini telah beranjak dewasa. Di usia yang masih tergolong belia, ia mengerahkan pasukannya dan siap berhadapan dengan pasukan konstantinopel. Bagaimana cara agar bisa melewati laut dan benteng yang tingginya 18 meter dan mengalahkan pasukan konstantinopel yang kuat itu?

Segala strategi ia lakukan. Namun gagal. Kemudian bangkit lagi mencari cara yang lain. Hingga akhirnya, ia melakukan strategi yang hingga kini sulit dipercaya. Ia memerintahkan pasukan meminyaki kapal dan membabat hutan. Ya, ia akan melayarkan 70 kapalnya melewati jalan darat perbukitan. Ia berhasil mendobrak banteng Konstantinopel. Hal ini membuat pasukan Romawi kocar-kacir dan terheran-heran. Bagaimana bisa ia mengendarai kapal perangnya melewati perbukitan? Demikian kelanjutannya hingga keangkuhan benteng Konstantinopel akhirnya runtuh dan berhasil ia taklukan dalam semalam di usinya yang masih 21 tahun.



PESAN DARI KISAH TERSEBUT..

Seorang pejuang harus memiliki visi yang kuat dan memegang teguh visinya. Seperti keteguhan Muhammad Al Fatih yang mengemban visi Rasulullah SAW bahkan sejak dari masa kanak-kanak. Visi yang sudah dicita-citakan harus dilestarikan. Setiap pagi, Al Fatih selalu melihat banteng tersebut dari kejauhan dan menanamkan kepada dirinya bahwa suatu hari banteng tersebut akan jatuh dibawah kekuasaannya. Lestarikan imipian dan visi Anda!

Dan seperti yang dilakukan oleh Al Fatih, sudahkah Anda memantaskan diri Anda untuk menghidupkan visi Anda tersebut? Sudah pantaskah diri Anda? 

Minggu, 19 April 2015

10 Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah

Salah satu shalat yang berat dilaksanakan bagi sebagian besar kaum Muslim, khususnya laki-laki dewasa ini, adalah shalat Subuh secara berjamaah. Padahal, bila melihat kepada keutamaannya, justru shalat Subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini sebagian keutamaan yang terdapat di dalamnya:

1. Mendapatkan berkah dari Allah Taala

Shalat Subuh berjamaah berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Taala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti shalat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah. Yang mendoakannya adalah Rasulullah shallallahualaihiwasallam:

Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

2. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat

Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik yang ada. Namun, dengan kondisi seperti itulah justru terdapat ganjaran yang besar dari Allah Taala bagi manusia-manusia yang menuju masjid buat melaksanakan shalat dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya

Bisakah kita melakukan shalat malam atau tahajud sepenuh malam? Tentu sangat sulit dengan beragam aktivitas siang hari yang juga harus kita kerjakan. Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa kita dapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:

Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu anhu)

4. Berada dalam jaminan AllahTaala

Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla., dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka. (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu anhu)

5. Dibebaskan dari sifat orang munafik

Siapakah dari kita yang bisa menjamin bahwa dirinya telah suci dari penyakit kemunafikan? Bukankah dahulu para tokoh Salaf, yang notabene keimanannya lebih baik daripada kita, senantiasa takut dan khawatir terjangkiti sifat kemunafikan? Lantas, tidakkah kita seharusnya lebih layak untuk khawatir terhadap kondisi kita dewasa ini? Apalagi hidup dalam dunia dengan godaan yang demikian banyak menerpa.

Shalat Subuh secara berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan itu, disebutkan dalam hadits:

Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Shalat (di masjid). (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

6. Jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan? Para malaikat menjawab, Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat. (HR. Bukhari-Muslim)

7. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari

Bisa dibayangkan betapa besar ganjaran pahala yang didapatkan bila memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Dasar dari hal ini adalah keterangan dari Anasibn Malik Radhiallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna. (HR. Tirmidzi)

8. Kesempatan untuk melaksanakan shalat sunah Subuh

Kesempatan lain yang bisa didapatkan dengan mengupayakan shalat Subuh secara berjamaah adalah shalat sunah Subuh dua rakaat. Shalat sunat Subuh dua rakaat ini punya kelebihan tersendiri yang disebutkan dalam hadits.

Dua rakaat (shalat sunah) Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya. (HR. Muslim dari Ummul MukmininAisyah Radhiallahu anha)

9. Keselamatan dari siksa Neraka

Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Mari perhatikan Hadits berikut:

Dari Umarah Radhiallahu anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).(HR. Muslim)

10. Kemenangan dengan melihat Allah Taala pada hari Kiamat nanti

Tentunya hal ini merupakan ganjaran terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu anhu berkata, Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah! (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga motivasi ini memicu kita untuk senantiasa bisa menjaga shalat Subuh secara berjamaah, bahkan menularkannya kepada saudara-saudara kita lainnya.

Reshare@EkoSetiyoG
Takaful financial consultant

www.takaful.co.id

Apakah Anda Sang Pencuri itu?


Di era modern kini dan di tengah ketatnya persaingan dunia, baik dalam hal bisnis, ekonomi, politik dan sosial budaya, semua orang menginginkan hidup serba instan. Semua ingin dijalankan dengan cepat dan instan serta mudah. Tak terkecuali dalam hal ibadah termasuk shalat.
Dengan alasan ingin mempersingkat dan mengefektifkan waktu, banyak muslim yang tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat.



Hal ini telah diingatkan dengan tegas dalam redaksi Thabrani dan Hakim.

Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya? Beliau Saw berkata, Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam.
Rasulullah menyebutnya dengan istilah pencuri yang paling jahat bagi muslim yang tidak menyempurnakan shalatnya. Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.

Kita sering marah ketika ada seseorang yang mencuri sandal kita, tetapi jika kita yang menjadi para pencuri shalat karena tergesa-gesa dan tidak menyempurnakan shalat baik dalam rukuk, sujud maupun salamnya tidak merasa bersalah.

Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Kekasihku Rasulullah sallalloohu alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwasanya tergesa-gesa dalam melaksanakan shalat adalah sebuah kesalahan dalam menjalankan shalat.

Siapa saja yang mencuri shalat, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia di mata Allah. Lebih dahsyat lagi, orang yang mencuri shalat dianggap tidak beragama, Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging. (HR. Ibnu Huzaimah).

Seorang muslim harus menjaga shalatnya, karena memang amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah shalat. Untuk menghindari mencuri dalam shalat, kita perlu mengetahui salah satu rukun dalam shalat yaitu Thumaninah.

Thumaninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan.

Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih (Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 1/124).

Dalam bahasa bebasnya, thumaninah dapat diartikan slow motion, pelan-pelan, dihayati, dipahami dan dinikmati.

Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!

Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!
Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!
Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku, tanya lelaki itu.

Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Quran yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beritidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya. (HR. Bukhari)

Rasulullah benar-benar memperhatikan hal ini, sehingga dengan tegas meminta salah seorang sahabat mengulang shalatnya hingga tiga kali karena meninggalkan ketenangan atau thumaninah dalam shalat.

Apabila meninggalkan thumaninah dalam shalat berarti shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah bersabda, Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku dan sujud (HR. Abu Dawud: 1/ 533)

Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Quran surat Al-Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud.

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkar. Wallahhu a'lamu bisshowab




Reshare @EkoSetiyoG
Takaful financial consultant
Info : SMS 08568210127 / pin 75d0fa98

www.takaful.co.id

Rabu, 25 Februari 2015

Menghindarkan Diri Dari Riba



Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, yang
memberikannya, penulisnya dan dua saksinya. Dan beliau berkata, mereka semua adalah
sama. (HR. Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits ini :

1. Larangan bermuamalah dengan riba. Karena riba merupakan dosa besar yang pelakunya akan diganjar Allah SWT dengan hukuman kekal di dalam neraka (QS. 2 : 275). Bahkan orang yang memakan riba, berarti dia menabuh genderang perang terhadap Allah SWT (QS. 2 : 278 - 279)

2. Secara bahasa, riba berarti tambahan atau kelebihan yang didapatkan secara tidak halal.
Sedangkan dari segi istilah riba adalah : (1) Pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal, secara bathil. (baca ; bertentangan dengan nilai-nilai syariah), atau definisi lainnya (2) segala tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.

3. Dilihat dari sejarahnya, riba terjadi pada masa jahiliyah. Pada masa tersebut, terjadi pinjam meminjam uang, terlebih-lebih masyarakat Mekah merupakan masyarakat pedangang, yang dalam musim-musim tertentu mereka memerlukan modal untuk dagangan mereka. Namun uniknya, transaksi pinjam meminjam tersebut baru dikenakan bunga; bila seseorang tidak bisa melunasi hutangnya pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan bila ia dapat melunasinya pada waktu yang telah ditentukan, maka ia sama sekali tidak dikenakan bunga. Dan terhadap transaksi yang seperti ini, Rasulullah SAW menyebutnya dengan riba jahiliyah.

Mengenai hal ini, Imam Mujahid mengatakan :
Bahwa pada masa jahiliyah jika seseorang berhutang pada orang lain, kemudian batas waktunya tiba, ia berkata, ‘saya tambahkan untuk kamu sekian, namun tambahkan waktu untuk saya melunasinya.

4. Riba tidak diharamkan Allah SWT secara sekaligus, melainkan bartahap sebagaimana
tahapan dalam pengharaman khamer:

· Tahapan I : Mematahkan Paradigma Manusia Bahwa Riba Melipat Gandakan Harta.
Allah berfirman dalam QS. 30 : 39 ;

“Dan sesuatu tambahan (riba) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia,
mak riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang
kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah
orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.

· Tahapan II : Membaritahukan Bahwa Riba Juga Dilarang Bagi Umat Terdahaulu
Setelah mematahkan paradigma tentang melipat gandakan uang sebagaimana di atas, Allah
SWT lalu menginformasikan bahwa karena buruknya sistem ribawi ini, maka umat-umat
terdahulu juga telah dilarang bagi mereka. Allah SWT firmankan dalam QS 4 : 160 – 161 :

 “Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan
makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka
banyak menghalangi manusia dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba,
padahal sesungguhnya mereka telah dialarang dari padanya, dan karena mereka harta
dengan cara yang bathil. Kami telah menyediaka nuntuk orang-orang kafir diantara mereka
itu siksa yang pedih”.

· Tahapan III : Gambaran Bahwa Riba Itu Sifatnya Akan Menjadi Berlipat-Lipat.
Lalu pada tahapan yang ketiga, Allah SWT menerangkan bahwa riba secara sifat dan
karakernya akan menjadi berlipat dan akan semakin besar, yang tentunya akan menyusahkan orang yang terlibat di dalamnya. Namun yang perlu digarisbawahi bahwa ayat ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa riba yang dilarang adalah yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak dilarang. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan sama sekali tidak dimaksudkan dalam ayat ini. Allah SWT berifirman (QS. 3:130),

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan
bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

· Tahapan IV : Pengharaman Segala Jenis Riba Secara Mutlak
Ini merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian periodisasi pengharaman riba. Dalam
tahap ini, seluruh rangkaian aktivitas dan muamalah yang berkaitan dengan riba, baik
langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda, besar maupun kecil, semuanya adalah terlarang dan termasuk dosa besar. Allah SWT berfirman dalam QS. 2 : 278 – 279 ;

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan seluruh sisa dari
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alla hdan Rasul-Nya akan
memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok
hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”

5. Riba memiliki dampak yang sangat negatif bagi setiap muslim, baik di dunia maupun di
akhirat. Diantara dampak negatif riba adalah :

a. Orang yang memakan riba, diibaratkan seperti orang yang tidak bisa berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan, lantaran (penyakit gila). (QS. 2 : 275).

b. Pemakan riba, akan kekal berada di dalam neraka. (QS. 2 : 275).

c. Orang yang “kekeh” dalam bermuamalah dengan riba, akan diperangi oleh Allah dan rasul-Nya. (QS. 2 : 278 – 279).

d. Seluruh pemain riba; kreditur, debitur, pencatat, saksi, notaris dan semua yang terlibat, akan mendapatkan laknat dari Allah dan rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya.” Kemudian beliau berkata, “ Mereka semua sama!”. (HR. Muslim)

e. Suatu kaum yang dengan jelas “menampakkan” (baca ; menggunakan) sistem ribawi, akan
mendapatkan azab dari Allah SWT. Dalam sebuah hadtis diriwayatkan :

Dari Abdullah bin Mas’ud ra dari Rasulullah SAW beliau berkata, ‘Tidaklah suatu kaum
menampakkan riba dan zina, melainkan mereka menghalalkan terhadap diri mereka sendiri
azab dari Allah SWT. (HR. Ibnu Majah)

f. Dosa memakan riba (dan ia tahu bahwa riba itu dosa) adalah lebih berat dari pada tiga puluh enam kali perzinaan.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Handzalah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dan ia mengetahuinya, maka hal itu lebih berat dari pada tiga puluh enam kali perzinaan.” (HR. Ahmad, Daruqutni dan Thabrani).

g. Bahwa tingkatan riba yang paling kecil adalah seperti seoarng lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

6. Oleh karenanya, setiap muslim harus berusaha menghindarkan diri dari segala bentuk
transaksi ribawi, dalam segala bentuknya; seperti kartu kredit non syariah, kredit
perumahan atau kendaraan konvensional, asuransi konvensional, dan segala bentuk investasi konvensional lainnya.

By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Sekretaris Dewan Pengawas Syariah Takaful Indonesia

Kamis, 08 Januari 2015

Bertafakur Dalam Kehidupan


أ لًََمَْ تََّفَنَّسُ اً فِ أوفُعِيِمْ مَا خَلقََ الَّلوُ العَّمَا اًَتِ اًَلْأَزْضَ مًََا ب نََْْيُمَا إلِاَّ باِلحَْقِّ أًََجَلٍ مُّعَمًّ إًَنَِّ مَثِيرًا مِّهَ النَّاضِ بلِِقَاء زَِّبيِمْ
﴾ لنََافِسُ نًَ ﴿ ٨
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan
langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan
waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan
pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rum : 8)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah
sebagai berikut :

1. Bahwa banyak manusia yang terlena dengan kehidupannya sehingga mereka “lupa”
akan tujuan utamanya menjalani kehidupan di dunia yang serba fana. Kebanyakan
manusia hidupnya diwarnai dengan segitiga materialisme ; kantor (pekerjaan), rumah (istirahat)
dan mall (tempat bersenang-senang). Mereka bekerja dengan tujuan hanya mengejar kehidupan
dunia; uang dan karir semata. Kemudian mereka makan, hanya untuk memenuhi kebutuhan
jasmaninya saja. Mereka juga bersenang-senang di tempat-tempat yang menurut mereka
menyenangkan; mall, tempat hiburang dsb. Keadaan mereka yang terperangkap dalam segitiga
materialisme ini “disindir” oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa mereka tak ubahnya seperti
hewan ternak yang menjalani kehidupan di dunia :

إنَِّ اللوََّ دُّْخِلُ الرَِّهَّ آمَنُ اٌ عًََمِل اٌُ الصَّالحَِاتِ جَنَّاتٍ تجَْسِ مِه تحَْتِيَا الْأَْويَازُ اًَلرَِّهَّ مَفَسُ اً تََّمَتَّوُ نٌَ أًََّْمُل نٌَُ مَمَا تأَْمُلُ الْأَووَْا اًَلَّنازُ مَثْ ﴾ لَّيُمْ ﴿ ٢١
Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (didunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal
mereka. (QS. Muhammad : 12)

2. Kondisi kebanyakan manusia yang seperti itu, tak ubahnya seperti orang yang lupa
dengan arah dan tujuan hidupnya. Mereka terlalaikan dan tergila-gila dengan kehidupan
dunia, yang pada hakekatnya hanyalah merupakan “sarana” (baca ; fasilitas) untuk menggapai
kehidupan yang hakiki nan abadi di akhirat sana. Ibarat orang yang berlayar di tengah lautan
menuju sebuah kepulauan, namun justru ia asyik dengan perahunya dan tidak pergi menuju
pulau yang ditujunya. Allah SWT mengingatkan kita :

اًَبْتَغِ فِ مَْا آتاَكَ اللوَُّ الدَّازَ ا خِْٓسََة لًَاَ تنَطَ وصَِ بَْلَ مِهَ الدُّو اَْْ أًََحْعِه مَمَا أحْعَهَ اللوَُّ إلِ لََْْ لًَاَ تبَْغِ اْلفَعَادَ فِ الْأَزْضِ إنَِّ اللوََّ لاَ حُِّبُّ المُْفْعِدِهَّ
﴾٧٧﴿
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-
Qashas : 77)

3. Untuk melepaskan diri dari “kelupaan” seperti itu, manusia perlu waktu untuk
merenung dan bertafakur tentang hakekat kehidupannya di dunia ini. Perenungan seperti
ini sangat penting, guna melihat dan meraba tentang hakekat yang ada. Perenungan tersebut
adalah tafakur. Tafakur berasal dari kata tafakara, yang berakar kata fakara yang berarti
merenungkan dan memikirkan sesuatu:

التَّ فَكُّرُ مَصْدَرٌ مِنْ تَ فَكَّرَ – ي تََ فَكَّرُ – تَ فَكُّرًا ، مُشْتَقٌ مِنْ فَكَّرَ أَيْ فَكَّرَ فِِ اْلأَمْرِ
Dari segi istilahnya, tafakur adalah bagaimana kita sebagai seorang hamba yang tiada daya tiada
kekuatan, menyadari akan besarnya serta agungnya ciptaan Allah SWT dengan cara merenungi
(baca; mentadaburi) ayat-ayat kauniyah yang terdapat di sekeliling kita, baik yang bersifat
internal dalam diri kita, maupun yang eksternah dari diri kita, yang pada akhirnya dapat
mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Karena kalau kita mau menyadari, ternyata bertafakur
merupakan sebuah kenikmatan yang sangat luar biasa, yang Allah berikan pada hamba-hamba-
Nya yang dikehendaki-Nya. Betapa banyak orang-orang yang jauh dari Allah, kemudian dapat
kembali pada jalan-Nya karena adanya tafakur yang dilakukannya. Bahkan dalam al-Qur’an
banyak sekali kata-kata tafakur yang Allah pergunakan. Hal ini menunjukkan betapa tafakur
memiliki nilai yang sangat penting di mata Allah SWT.
Allah berfirman (QS. Al-Mulk : 3-4)

الرَِّ خَلقََ ظَبْعَ ظَمَا اًَتٍ طِبَاقاً مَّا تسََ فِ خَلقِْ السَّحْمَهِ مِه تفَا تًٍُ فَازْجِعِ البَْصَسَ ىَلْ تسََ مِه فُطُ زٌٍ ﴿ ٣﴾ ثمَُّ ازْجِعِ البَْصَسَ مَسَّت هَِْْ نقَلبِْ
﴾ إلِ لََْْ البَْصَسُ خَاظِأً ىًَُ حَعِيرٌ ﴿ ٤
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

4. Selain urgensi sebagaimana dijelaskan di atas, takafur juga memiiki urgensi lain yang
sangat penting bagi setiap muslim, diantaranya adalah :

a. Bertafakur terhadap kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, berarti talah malaksanakan
perintah Allah SWT. Karena tafakur merupakan perintah Allah. Sebagai contoh, Allah
mengatakan dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Ruum : 8) : Dan mengapa mereka tidak memikirkan
tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan
sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan
Tuhannya.

b. Mentafakuri kebesaran Allah merupakan salah satu ciri orang yang beriman. Allah SWT
berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Ali Imran : 190 – 191) : “Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orangorang
yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha
Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

c. Dengan mentafakuri penciptaan Allah, akan mempertebal dan memperkuat keimanan kepada
Allah SWT. Sebagai contoh Allah memberikan pertanyaan kepada insan yang kufur terhadap
Allah, dalam beberapa ayat-Nya (QS. An-Naml : 60): “Atau siapakah yang telah menciptakan
langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan
air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu
menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan
(sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).

d. Tafakur juga akan mendatangkan rasa kekerdilan jiwa kita di hadapan Allah SWT yang Maha
Segalanya, yang sekaligus akan menghancurkan fenomena kesombongan dalam jiwa kita.
Allah SWT menggambarkan (QS. Al-Jatsiyah : 13) “Dan Dia menundukkan untukmu apa
yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang berfikir.”

e. Dengan tafakur seseorang akan dapat memahami hakekat kehidupan dunia. Allah berfirman
dalam salah satu ayatnya (QS. Yunus : 24)

إِومََّا مَثَلُ الحَْ اَْة الدُّو اَْْ مَمَاءٍ أوصَْلنَْاه مِهَ العَّمَاءِ فَاخْتَلطََ بوِِ وبََاتُ الأَزْضِ مِمَّا أَّْمُلُ النَّاضُ اًَلْأَووَْا حَتَّ إذَا أخَرَتِ الأََزْضُ شُخْسُفَيَا
اًَشَّنََّّتْ ظًََهَّ أىَُْليَا أَّويُمْ قَادِزُ نًَ عَل يََْْا أتاَىَا أمْسُواَ ل لَْْا أ ويَاز ا فَجَوَلنَْاىَا حَصِ دْ ا مَأَنْ لمَْ ت هََْْ بالأَمْطِ مَرَللَِ وفَصِّلُ آَّتِ لقَ تََّفَنَّسُ نًَ
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di
antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira
bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam
atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.”

Wallahu A’lam bis Shawab
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag