Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2014

Besarnya Dosa Riba


«الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»
Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).
Al-Hakim meriwayatkan hadis di atas di dalam Al-Mustadrak dari Abu Bakar bin Ishaq dan Abu Bakar bin Balawaih; keduanya dari Muhammad bin Ghalib, dari Amru bin Ali dari Ibn Abi ‘Adi, dari Syu‘bah, dari Zaid dari Ibrahim, dari Masruq, dan dari Abdullah bin Mas‘ud. Al-Hakim berkomentar, “Hadis ini sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya.”
Al-Minawi menukil di dalam Faydh al-Qadîr, bahwa al-Hafizh al-‘Iraqi berkata (tentang hadits di tas), “Sanadnya sahih.”
Adapun al-Baihaqi meriwayatkan hadis di atas di dalam Su‘ab al-Imân dari Abu Abdillah al-Hafizh, dari Abu Bakar bin Ishaq, dari Muhammad bin Ghalib dari Amarah bin Ali, dari Ibn Abi Adi, dari Syu‘bah, dari Zubaid dari Ibrahim, dari Masruq, dan dari Abdullah bin Mas‘ud.
Hadis yang semakna juga diriwayatkan oleh Ibn al-Jarud dalam Al-Muntaqâ; Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibn Abi Syaybah; Abd ar-Razaq dalam Mushannaf Abd ar-Razâq; Abu Nu‘aim al-Ashbahani dalam Ma‘rifah ash-Shahâbah; Ibn Abi Dunya di dalam Dzam al-Ghîbah wa an-Namîmah; dan yang lain.

Makna Hadis
Kata ar-ribâ maksudnya adalah itsm ar-ribâ (dosa riba). Menurut ath-Thayibi, penetapan makna tersebut merupakan keniscayaan agar sejalan dengan makna kalimat: aysaruhâ mitslu an yankiha….
Kata bâb[an] maknanya adalah hûban (dosa). Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:
«الرِّبَا سَبْعُوْنَ حُوْبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ»
Riba itu (ada) 70 dosa. Yang paling ringan adalah (seperti) seorang laki-laki yang menikahi ibunya sendiri (HR Ibn Majah, al-Baihaqi, Ibn Abi Syaibah dan Ibn Abi Dunya).
Kata hûb[an] artinya adalah al-itsm wa adz-dzunûb (dosa). Kata 73 itu—dalam riwayat lainnya dinyatakan 70, 72 dan 63—tidak menyatakan batasan jumlah tertentu, melainkan menunjukkan arti: banyak jenis dan tingkatannya. Karena iru, hadis di atas bisa dimaknai bahwa dosa riba banyak macam dan tingkatannya. Yang paling rendah adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibunya sendiri. Bahkan Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
«دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً »
Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan ath-Thabrani).
Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
«دِرْهَمٌ رِبًا أَشَدُّ عَلَى اللهِ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً. وَقَالَ : مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ»
Satu dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, “Siapa saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya.” (HR al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Asy-Syaukani, dalam Nayl al-Awthâr, berkata, Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat. Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada kemaksiatan zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat keji, tidak diragukan lagi, bahwa kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.”
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling besar. Hal itu bisa dilihat dari: Pertama, orang yang mengambil riba merupakan penghuni neraka dan kekal di dalamnya (QS 2: 275). Kedua, meninggalkan (sisa) riba dinilai sebagai bukti keimanan seseorang (QS 2: 278). Ketiga, orang yang tetap mengambil riba diindikasikan sebagai seorang kaffâran atsîman; orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu berbuat dosa (QS 2: 276). Keempat, orang yang tetap mengambil riba diancam akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya (QS 2: 279). Kelima, dosa teringan memakan riba adalah seperti berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat daripada berzina dengan 36 pelacur.
Hadis di atas jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan di masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena riba sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan, eksploitasi, pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan hanya terjadi pada tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu bangsa, umat dan negara. Hal itu seperti yang dilakukan oleh negara-negara besar (penjajah) kepada negara Dunia Ketiga. Melalui utang dengan sistem riba akhirnya kekayaan negara-negara Dunia Ketiga justru mengalir ke negara besar. Dengan utang itu pula, negara-negara Dunia Ketiga didekte dan dikendalikan demi kepentingan negara-negara besar itu. Apa yang terjadi akibat utang luar negeri terhadap negeri ini merupakan buktinya.
Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah menghalalkan diturunkannya azab Allah kepada mereka. Ibn Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»
Jika telah tampak nyata zina dan riba di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya) azab Allah (kepada mereka) (Hr al-Hakim).

Dalam bermuamalah didunia ini, tantangan seorang pengusaha, penjual, sales adalah melawan riba. Kalau hanya nyari untung besar dengan riba percuma. Untung besar tapi dosanya besar.
Yuk mari kita lebih selektif memilih produk-produk ataupun cara-cara jual beli tanpa riba.

Untuk Asuransi Murni syariah tanpa riba klik disini

Sumber yang halah memberi keberkahan untuk keluarga kita.

Selasa, 31 Agustus 2010

Bahagia saat akan berakhir bulan Ramadhan

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah berada di akhir perjalanannya, hari-hari yang indah akan berlalu, waktu-waktu yang penuh berkah akan berakhir, tentunya seorang muslim patut berbahagia mampu melaksanakan ibadah Ramadhan hingga di penghujung terakhir.

Sebelumnya kita sebagai seorang muslim bergembira dengan datangnya Ramadhan. Mengawali indahnya sahur dan buka pertama pada hari pertama bulan Ramadhan. Mengenang begitu nikmatnya berbuka puasa, menunaikan shalat tarawih berjamaah, tilawah Al-Qur’an, shalat berjamaah di setiap shalat wajib, mendengarkan ta’lim, bersedekah dan membayar zakat, beri’tikaf, bermunajat, dan amalan-amalan baik lainnya, tidak terasa sudah berada dipenghujung bulan Ramadhan.

Walaupun tidak dapat dipungkiri dengan berakhirnya bulan Ramadhan banyak perasaan yang muncul di hati yang bercampur menjadi satu; ada kecemasan dan rasa sedih serta duka manakala menyadari bahwa bulan yang penuh dengan kebaikan dan pahala akan berakhir, apalagi ada perasaan takut, cemas dan khawatir jika usia tidak sampai pada Ramadhan berikutnya; begitu pula ada rasa bahagia, senang dan gembira, manakala telah berhasil menjalankan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya, dan berharap berakhir dengan mendapatkan derajat yang paling mulia disisi Allah yaitu taqwa. Allahumma amin.

Marilah kita berdo’a bersama :

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وركوعنا وسجودنا وتخشعنا وتصرعنا وتلاوتنا وتصدثنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين

“Ya Allah terimalah puasa kami, qiyam kami, ruku’ kami, sujud kami, kekhusyuan kami, ibadah kami, tilawah kami, sedekah kami dan sempurnakanlah segala kekurangan kami wahai Zat yang Maha Kasih dari yang mengasihi”.

Dan juga membaca doa sebagaimana yang nabi ajarkan

اللهم بلغنا رمضان

“Ya Sampaikanlah kami pada bulan ramadhan”

Dan guna menjaga nilai-nilai taqwa dan memelihara kesan baik pada bulan Ramadhan setelah menyelesaikan puasa di bulan Ramadhan, maka nilai-nilai positif dari puasa dan amalan-amalan lainnya harus tetap dipertahankan; menjaga shalat wajib secara berjamaah, senantiasa tilawah Al-Qur’an, qiyamulail, sedekah, dan memupuk solidaritas dan kepedulian serta memelihara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa; sikap rendah diri, pemaaf, ikhlas, dan lain sebagainya.

Berbagai kebahagiaan berakhirnya bulan Ramadhan

Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah dan amaliyah pada bulan Ramadhan; maka ada beberapa kebahagiaan yang insya Allah dapat kita rasakan;

1. Bahagia telah berhasil dengan sempurna melaksanakan dan menunaikan ibadah dan amaliyah pada bulan Ramadhan.

Seperti harapan kita yang dimohonkan pada awal memasuki bulan rajab; “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Telah terkabul.

Dan harus kita akui bahwa berhasilnya menunaikan segala aktivitas dan amaliyah bulan Ramadhan, dengan kondisi iman yang mantap, fisik yang kuat, dan mental yang sehat merupakan anugerah yang tidak terhingga, sehingga mampu melaksanakan perintah puasa dengan khidmat. Ali bin Abu Thalib pernah berkata: “Sehat jasmani adalah anugerah yang paling indah”

Melalui aktivitas dan amaliyah ibadah di bulan Ramadhan, kita diberi bonus pahala berlipat dan kesempatan untuk melebur dosa-dosa yang pernah dilakukan. Seperti yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan.

2. Bahagia dapat menumbuhkan kepedulian terhadap sesama

Kebahagiaan kedua yang dapat kita rasakan pada saat berakhirnya bulan Ramadhan adalah karena kita telah mampu menunaikan kewajiban zakat; terutama zakat fitrah. Sebuah ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri setiap muslim sekaligus sebagai penyempurna puasa Ramadhan, dan memunculkan sikap kepedulian terhadap sesama.

Bahwa diantara tujuan dan hikmah diwajibkannya ibadah zakat selain mengupayakan kesucian diri, keberkahan harta benda yang dimilikinya, juga dapat menghilangkan sifat kikir, menampakkan kepedulian dan tolong menolong antar sesama, sehingga tidak ada kesenjangan yang jauh antara orang kaya dan miskin.

Selain menunaikan zakat yang menjadi kewajiban, kita juga dianjurkan untuk melaksanakan ifthar jama’i (berbuka bersama) walaupun dengan memberikan seteguk air putih; dengan mengajak taman, saudara (dekat dan jauh), tetangga, dan terutama fakir miskin untuk berbuka atau memberikan makan untuk berbuka, sehingga dengan demikian mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa tanpa dikurangi pahala puasa orang tersebut.

3. Bahagia dapat menjalin hidup berjamaah; baik shalat, ifthar, mengikuti ta’lim dan lain sebagainya.

Bahwa diantara misi puasa yang Allah SWT turunkan kepada umat Islam adalah bagaimana dapat menjalin kerja sama yang baik dan taqwa, merasakan indahnya hidup berjamaah, indahnya hidup saling berbagi, nikmatnya hidup yang penuh dengan ilmu. Kesemua itu dapat kita rasakan pada bulan ramadhan, terdapat tarbiyah itjima’iyah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Jika ini dapat kita pertahankan maka kehidupan umat Islam akan baik dan penuh dengan keharmonisan. Maka kelak Allah akan berkenan menjadikan hidup ini penuh dengan keberkahan dan kebaikan. Menjadi negeri yang

بلدة طيبة ورب غفور

“Negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun”

4. Bahagia dapat menggapai malam seribu bulan

5. Bahagia dapat melakukan silaturahim

Rasulullah saw bersabda:

من سره أن يبسط له في رزقه وأن بنشأ له في أثره فليصل رحمه

“Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezkinya dan dipanjangkan usianya maka sambunglah tali persaudaraan” (Bukhari dan Muslim).

Tradisi “halal bi halal” yang ada pada setiap hari raya iedul fitri adalah kesempatan yang baik untuk menyambung tali silaturrahim. Yang tentunya silaturrahim dalam maknanya yang luas, yaitu saling memaafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, saling mempererat hubungan persaudaraan atas dasar keimanan dan kebangsaan, bukan hanya sebatas persaudaraan atas dasar kekerabatan dan hubungan nasab keturunan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al Qur’an:

إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم

“Sesungguhnya hanyalah orang-orang mukmin sajalah yang bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (Al Hujurat: 10)

6. Bahagia dapat menggapai derajat taqwa

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)

sumber : http://www.al-ikhwan.net

Selasa, 17 Agustus 2010

Indonesia ada karena Ramadhan






“Allohu Akbar….Allohu Akbar…. Allohu Akbar”. Itulah sekiranya pekikan yang di gaungkan bung Tomo tanggal 10 November 1945, disela-sela pidato penyemangatnya di radio RRI Surabaya yang mampu memecut semangat arek-arek suroboyo untuk menyambut serangan dari Sekutu yang membonceng tentara belanda. Peperangan yang disebabkan tewasnya jendral Malaby dari sekutu laknatulloh alaih dimana tidak pernah ada jendral sekutu di perang dunia II saat itu yang terbunuh, melainkan di bumi nusantara. Kisah heroik yang harusnya menjadi pembelajaran yang penting bagi pemuda-pemuda Islam yang sekarang lebih sibuk dengan dugem, happy hour, Narsis dan lain sebagainya.

Di detik-detik Romadhon yang terus berdenting. Berapa banyak manusia terutama pemuda yang menyisihkan waktu hidupnya untuk ikhlas berjuang untuk orang lain. Mungkin, kita hanya mampu melihatnya di layar kaca itupun karena ada pujian dan hadiah yang diberikan oleh stasiun TV atau sponsor acara tersebut. Sejatinya, kita sebagai anak bangsa harus mampu bekerja produktif dengan ikhlas sebagai pondasi dasar perjuangan di pelbagai kehidupannya.

Slogan yang di lontarkan bung Karno sebagai founding father kita yaitu “JAS MERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) merupakan ungkapan yang tepat bagi merevolusi gaya berfikir pemuda Indonesia saat ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri. Islam pun mengajarkan demikian, yaitu perjuangan/ jihad dimana Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma mengartikannya: “ mencurahkan kemampuan karena yakin pada Allah serta tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.” . Karenanya, perjuangan indonesia bukanlah hal yang biasa tapi hal yang luar biasa karena merupakan kristalisasi dari perjuangan para ulama dan kaum muslimin Indonesia.

Puncak perjuangan Muslim Indonesia dalam upaya kemerdekaan Indonesia ternyata sangatlah nyata yaitu pada saat detik-detik proklamasi. Mungkin kita hanya mendengar tentang desakan para pemuda yang menculik sukarno ke rengasdengklok agar menyegerakan proklamasi kemerdekaan dari buku-buku sejarah di sekolah. Tapi sesungguhnya, sukarno tetap tidak berani. Dikarenakan di dorong oleh K.H Hasyim Asy’ari lah akhirnya Sukarno mau memproklamasikan Negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 M atau bertepatan dengan 19 Romadhon 1364 H. Jelaslah sudah bahwa tepat yang disampaikan jika Romadhon adalah Syahrul Jihad/ Bulan perjuangan. Dan sebagai balas jasa kaum muslimin, Sukarno kemudian membangun Masjid Syuhada Di Jogjakarta. Dan sebagai tambahan bahwa pemimpin tentara PETA dari 68 batalyon pada saat itu, bukan hanya terdiri dari perwira melainkan para Ulama.

Jadi, Dimanakah anda wahai pemuda Islam. Jika sejarah telah menorehkan tinta kecemerlangan Kemerdekaan Negara kita, apa yang kalian tunggu untuk membangun bangsa ini menuju keperbaikan yang nyata. Bukan hanya fisik dan intelektual yang akan anda susun tapi membangun peradaban bangsa dengan memulai membangun ruhiyah kalian dengan bersemangat dalam berislam tiap-tiap sendi kehidupan. Karena ini akan mengantarkan kita menjadi bangsa yang besar, yang masyarakatnya mencintai Alloh dan Alllohpun mencintai mereka.

فَلاَ تُطِعِ الْكاَفِرِيْنَ وَجاَهِدْهُمْ بِهِ جِهاَداً كَبِيْراًً

“Maka janganlah kamu mengikuti orang2 kafir dan berjihadlah terhadap mereka dgn Al-Qur’an dgn jihad yg besar.”

oleh : Muhammad Haden Aulia Husein
Rumah Zakat-www.rumahzakat.org

Minggu, 15 Agustus 2010

Untuk apa kita berpuasa?


Ada pertanyaan dalam diri saya sejak kecil yaitu, untuk apa sebenarnya saya berpuasa?.
Jawabannya bisa sederhana, yaitu agar kita bertakwa, atau jawaban yang rumit berbelit-belit, ditinjau dari banyak sudut dan segi, misalnya kedokteran atau lainnya. Namun jawaban itu masih belum memuaskan saya, belum membumi, belum menjadi realitas dalam kehidupan saya. Maka puasa tetap saja menjadi sebuah "dogma". Berpuasa mendapat pahala dan meninggalkannya akan berdosa.

Pemahaman tentang hakekat puasa bagi saya mulai tersingkap, sejak melakukan sholat khusuk. Tidak berbelit-belit, tidak teoritis, namun membumi, dalam realitas.
Puasa adalah sholat dalam realitas kehidupan. Atau lebih jelasnya Puasa adalah melatih kesadaran. Kesadaran berpuasa. Kesadaran bahwa ada yang mengamati, yaitu Allah. Kalau sholat dimulai dengan takbir dan diakhir dengan salam, maka puasa dimulai dengan niat saat fajar dan diakhiri dengan berbuka. Maka selama berpuasa yang dilatih adalah kesadaran dari jiwa kita. Sadar untuk mengikuti petunjukNYA dan menjauhi laranganNYA. Puasa melatih kedisiplinan dalam kesadaran. waktu berpuasa harus benar-benar tepat dihitung, tidak boleh kurang, dan harus serius dan sungguh-sungguh.

Maka benarlah kalau puasa adalah ajang pelatihan, ajang peperangan dalam diri sendiri, dari kesadaran sendiri. Mengapa kita mau melakukan ini, anda bisa makan secara sembunyi-sembunyi dan memastikan tidak ada yang tahu. Namun ada kesadaran bahwa ada yang tahu yaitu anda sendiri tahu. Artinya ada kesadaran yang tahu, bahwa anda puasa atau tidak. Kesadaran ini memberi tahu bahwa ada sesuatu yang mengamati dan tahu apa yang sedang kita lakukan. Artinya walaupun kita tidak melihat, namun kita sadar bahwa kita tidak boleh makan karena Allah tahu kita sedang makan. Itulah makna ihsan. Maka puasa adalah melatih kesadaran kita ber-ihsan kepada Allah.

Sebuah contoh sederhana mengenai ihsan: Anda masuk ke ruangan yang dilarang merokok, di seluruh bagian dari ruangan itu dipasang kamera. Anda diberi tahu ada kamera yang memantau seluruh kegiatan anda setiap detik. Walaupun anda tidak melihat kameranya, namun anda yakin bahwa anda sedang diamati. Seseorang sedang melihat anda.


Yang berpuasa adalah jiwa (emosi, nafsu, keinginan, dsb) kita, bukan sekedar tubuh yang hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga. Maka kesadaran menjadi titik tolak terpenting, itulah sebabnya kalau kita tidak sadar makan dan minum atau terlupa tidak membatalkan puasa kita. Karena yang dituntut adalah kesadaran kita berpuasa, yaitu menjalankan perintahNYA. Kesadaran dalam berbuat, berfikir dan beribadah. Kesadaran bahwa kita sedang berpuasa.
(Contoh ekstrim: Bayangkan kalau anda tidur sejak sahur dan bangun saat buka, atau anda hanya membaca buku cerita, menonton tv, mancing atau apapun itu sejak sahur dan selesai saat magrib, apakah ada kesadaran disini?).

Berlatih kesadaran ber-ihsan kepada Allah secara serius, sungguh-sungguh dalam realitas kehidupan kita sehari-hari. Berlatih selama sebulan penuh akan menempatkan kesadaran pada puncak tertinggi melihat wujud Allah dalam realitas kehidupan kita sehari-hari.
Ketika berbicara akan berhati-hati karena Allah Maha Mendengar
Ketika berfikir akan positif karena Allah akan membimbing
Ketika bertingkah laku dan berakhlak akan mengikuti aturan dan petunjukNYA
....
Itulah Iman atau keyakinan kita kepada Allah
Buahnya nanti adalah Takwa setelah kita lulus dalam gemblengan selama sebulan ini.
(Ya Takwa: itulah jawaban dari ustad atau guru-guru saya sejak kecil, namun tidak mampu saya jabarkan dalam realitas hidup saya selama ini).


Maka marilah kita berpuasa untuk melatih kesadaran kita, berpuasa dengan ber-ihsan atau melihat Allah. Biarlah kita serahkan pahala atau penilain kepada Allah saja. Kita hanyalah melatih kesadaran kita mendekat kepada Allah.
Semakin dekat dan semakin dekat, sampai tak terasa ada jarak lagi. Kita merasakan Allah ada dalam kesadaran kita.

Senin, 09 Agustus 2010

Jangan biarkan Ramadhan tanpa Pahala!


Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ
فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta 
dan beramal dengannya serta berbuat maksiat,
 
maka Allâh sama sekali tidak butuh ia meninggalkan makanan dan minumannya.
 
(HR al-Bukhari)
Jelaslah, ini merupakan ancaman keras bagi orang yang mengisi waktu-waktu Ramadhan-nya dengan kemaksiatan dan perkara-perkara dusta lainnya. Ironisnya, ada di antara kaum Muslimin yang memanfaatkan bulan Ramadhan dengan perkara-perkara yang sia-sia. Bahkan lebih banyak menjurus kepada kemaksiatan, sejak awal bulan hingga akhirnya, dan sejak pagi hingga malam harinya.
Kebiasaan yang nyaris terlihat di berbagai sudut kota, banyak kaum muda Islam yang lebih senang melakukan acara jalan-jalan pagi, dan menjadikannya sebagai ajang berbuat maksiat, seperti ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) hingga pamer aurat.
Demikian juga berbagai media elektronik seolah melengkapi, baik radio maupun televisi ikut pula menambah semarak kesia-siaan dengan berbagai acara-acara yang berisi kedustaan, pamer aurat, isu-isu di kalangan kaum Muslimin, ngerumpi (ghibah), dan acara-acara lainnya yang melalaikan penontonnya dari dzikir dan dari membaca Al-Qur‘ân serta amalan-amalan kebaikan lainnya.
Begitu pula dengan acara-acara kuis, misalnya menjelang fajar, yang diadakan baik secara sengaja maupun tidak, ia telah mencuri perhatian kaum Muslimin sehingga terbuai dan lalai, bahwa waktu tersebut merupakan waktu mustajab untuk berdoa dan makan sahur. Bukankah acara-acara itu melalaikan kita dari perbuatan yang utama? Padahal ini termasuk tipu daya setan dalam menggoda manusia.
Oleh karena itu, bila kita tidak berhati-hati dalam masalah ini, jangan-jangan kita lelah melaksanakan puasa, tidak makan dan minum sejak fajar Subuh hingga terbenam matahari, ternyata hanya mendapatkan haus dan lapar saja, seperti yang diancamkan dalam hadits di atas. 
Wahai para pencari kebaikan! Sadarlah, bila kesempatan telah pergi dan hilang, ia tidak dapat kembali, dan waktupun terus berlalu seiring dengan perputarannya, hingga ajal pun datang menjemput. Maka, dalam bulan Ramadhan yang mulia ini, marilah kita gunakan kesempatan untuk meraih pahala yang besar dan ketakwaan dengan sebaik mungkin.
Mudah-mudahan Allâh memberikan taufiq kepada kita untuk menjadi orang yang bertakwa dan memiliki bekal yang cukup untuk menghadap Sang Pencipta di akhirat nanti.

sumber :http://majalah-assunnah.com

Sabtu, 07 Agustus 2010

Apa saja yang dipersiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sobat muslim tak terasa sebentar lagi kita melaksanakan puasa bulan ramadhan, sebelumnya saya minta maaf apabila ada tulisan saya yang tidak berkenan dihati sobat zetiyo'sblog. Bulan Ramadhan adalah bulanya umat nabi Muhammad saw, marilah kita memperbanyak amal ibadah tanpa melupakan kewajiban yang bersifat duniawi. agar kita dapat menjalankan puasa dengan khusyu dan tanpa keragu-raguan, apa saja yang harus dipersiapkan?


1. Tidak Berpuasa Mendekati Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ
“Janganlah ada salah seorang di antara kalian yang melakukan puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan kecuali bagi orang yang memiliki kebiasaan puasa (sunnah) maka boleh baginya untuk puasa pada hari itu.” (HR. Bukhari [1914] dan Muslim [1082] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ini lafazh Bukhari).
an-Nawawi menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terdapat penegasan hukum terlarangnya mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya bagi orang yang tidak berbenturan hari itu dengan kebiasaannya untuk berpuasa (sunnah) atau dia tidak menyambungnya dengan hari-hari sebelumnya. Maka apabila dia berpuasa tanpa disambung dengan hari sebelumnya atau bukan menjadi kebiasaannya maka hukumnya haram puasa pada hari itu.

2. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengira beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah tidak berpuasa sampai-sampai kami kami mengira beliau tidak akan berpuasa. Tidaklah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam waktu sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa -di luar bulan Ramadhan- melainkan ketika bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari [1969, 1970, dan 6465] dan Muslim [1156]).
al-Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa maksudnya dahulu Nabi biasa berpuasa (sunnah) di bulan Sya’ban maupun bulan yang lainnya, namun puasa sunnah yang beliau lakukan di bulan Sya’ban lebih banyak daripada di luar bulan itu (Fath al-Bari, 4/249). Beliau juga mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut terdapat dalil tentang keutamaan berpuasa di bulan Sya’ban (Fath al-Bari, 4/250).
Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya yang menyebutkan larangan mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari. Keduanya dapat dikompromikan, yakni larangan itu ditujukan kepada orang yang tidak biasa melakukan puasa (sunnah) pada hari-hari tersebut (Fath al-Bari, 4/250). Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar hal itu (puasa sunnah di setiap bulan) tidak dikira sebagai sebuah kewajiban (al-Minhaj, 4/489).
Oleh sebab itu, ketika ditanya tentang puasa di bulan Sya’ban Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab bahwa hal itu adalah sunnah, dan memperbanyak puasa di bulan itu sangat dianjurkan. Bahkan para ulama mengatakan bahwa perumpamaan puasa Sya’ban itu seperti halnya shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan shalat-shalat wajib (Fatawa Arkan al-Islam, hal. 491).

3.Berpuasa Bersama Pemerintah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصوم يوم تصومون، و الفطر يوم تفطرون، و الأضحى يوم تضحون
“Puasa adalah hari ketika kalian berpuasa bersama. Hari raya idul fitri juga di hari ketika kalian berhari raya bersama. Kurban juga di hari ketika kalian berkurban bersama.” (HR. Tirmidzi [693] dan Ibnu Majah [1660] dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah [hadits ke-224], Sahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [697], dan Shahih al-Jami’ [3869] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
at-Tirmidzi mengatakan setelah membawakan hadits di atas,
وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال: إنما معنى هذا، الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس
“Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : sesungguhnya makna dari ungkapan tersebut adalah berpuasa dan berhari raya (hendaknya) bersama dengan masyarakat (jama’ah) dan kebanyakan orang.” (Sunan At-Tirmidzi, Bab ma jaa’a annal fithra yauma tufthiruun wal adh-ha yauma tudhahhuun).
Abul Hasan as-Sindi mengatakan setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi di atas, “Yang tampak ialah bahwa maksudnya perkara-perkara ini bukan wewenang setiap orang. Mereka tidak boleh menyendiri dalam melakukannya (hari raya, puasa, dan kurban, pen). Akan tetapi urusan itu harus dikembalikan kepada imam (pemimpin/pemerintah) dan jama’ah (masyarakat Islam di sekitarnya). Sehingga wajib bagi setiap individu untuk mengikuti ketetapan pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan hal ini, apabila ada seorang saksi yang melihat hilal dan pemerintah menolak persaksiannya maka dia tidak boleh menetapkan perkara-perkara tersebut untuk dirinya sendiri. Dia wajib untuk mengikuti masyarakat dalam melaksanakan itu semua.” (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibni Majah, hadits 1650. asy-Syamilah).

semoga uraian risalah singkat ini bermanfaat buat sobat zetiyo'sblog...